Menu

Mode Gelap
Tambal Sulam Jalan Panaragan Jaya Diragukan Kualitasnya, Warga Khawatir Cepat Rusak Kembali KPU Tulangbawang Barat Lakukan Pemutakhiran Data Pemilih, DPT Capai 230.950 Jiwa Gelar Adat, Legitimasi, dan Marwah Budaya Lampung Kolonel Marinir Kanang Budi Raharjo Resmi Menjabat Danbrigif 4 Mar/BS Sukacita Keluarga yang Berbuntut Rencana Pelaporan Oknum Polisi

Fashion

Mengakui Buangan Cairan Keruh ke Rawa, Pengelola MBG Kagungan Ratu 2: Itu Hasil Kurasan IPAL

badge-check


					Mengakui Buangan Cairan Keruh ke Rawa, Pengelola MBG Kagungan Ratu 2: Itu Hasil Kurasan IPAL Perbesar

Mengakui Buangan Cairan Keruh ke Rawa, Pengelola MBG Kagungan Ratu 2: Itu Hasil Kurasan IPAL

Update24.co.id – Polemik dugaan pencemaran lingkungan dari operasional Dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) Kagungan Ratu 2 yang berlokasi di RT 1 RK 3, Kecamatan Tulang Bawang Udik, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), kian terungkap fakta di lapangan. Setelah sebelumnya warga merisaukan aliran cairan keruh dan berminyak yang mengalir menuju kawasan rawa, pihak pengelola akhirnya membenarkan bahwa aliran tersebut merupakan hasil pembuangan dari instalasi pengolahan air limbah (IPAL) milik dapur.

Pengakuan ini disampaikan langsung oleh Kepala SPPG Dapur MBG Kagungan Ratu 2, Agus, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Selasa (12/5/2026). Menurut penjelasannya, cairan yang dibuang tersebut merupakan endapan lumpur yang menumpuk di dalam tangki pengolahan, dan dikuras secara berkala saat dapur tidak beroperasi.

“Memang benar itu hasil kurasan IPAL, karena endapan lumpurnya sudah cukup banyak menumpuk. Kami lakukan pengurasan saat hari libur operasional agar kinerja penyaringan kembali optimal. Bagian tabung besar dikuras secara berkala, sedangkan tabung kecil rutin kami bersihkan setiap hari. Bahkan semalam kami juga sudah menambahkan bahan tawas untuk membantu pengendapan,” jelas Agus.

Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa limbah yang menggenang dan mengalir ke kawasan terbuka tidak berasal dari sumber lain, melainkan sisa hasil pengolahan dari kegiatan memasak untuk program gizi gratis tersebut. Kendati demikian, pengakuan ini justru memunculkan tanda tanya besar di mata publik mengenai efektivitas sistem pengolahan yang diterapkan.

Pasalnya, pantauan di lokasi menunjukkan cairan yang dialirkan keluar masih berwarna pekat, berbau khas sisa masakan, dan terlihat mengandung sisa minyak yang cukup banyak. Jika sistem IPAL telah bekerja sesuai standar, masyarakat mempertanyakan mengapa hasil akhir kurasan masih dibuang langsung ke lingkungan tanpa melalui proses netralisasi lebih lanjut.

Kondisi ini pun menambah kekhawatiran warga, terlebih saat memasuki musim penghujan. Apabila debit air bertambah besar, dikhawatirkan limbah tersebut akan meluap dan terbawa arus masuk ke saluran air umum, rawa, hingga ke sungai terdekat.

Isu ini juga menjadi sorotan lebih luas mengingat kasus serupa sebelumnya sempat ditemukan di sejumlah titik dapur MBG lainnya di wilayah Tubaba. Publik kini mempertanyakan apakah seluruh dapur penyedia makanan bergizi gratis di kabupaten ini benar-benar telah dilengkapi fasilitas pengolahan limbah yang memadai, mulai dari penyaring lemak (grease trap), tangki bioteknologi, hingga sistem filtrasi akhir. Tanpa pengelolaan yang tepat, limbah dalam jumlah besar berisiko merusak kualitas tanah dan sumber air bersih pemukiman.

Merespons keresahan yang berkembang, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tubaba, Iwan Setiawan, menyatakan pihaknya telah berkoordinasi erat dengan Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten. Tim teknis dijadwalkan turun langsung ke lokasi pada hari Rabu guna melakukan pengecekan menyeluruh.

“Berdasarkan hasil koordinasi dengan Ketua Satgas MBG, besok pagi tim teknis kami akan melakukan tinjauan dan pemeriksaan langsung ke lokasi. Segala langkah serta rekomendasi tindak lanjut akan kami susun berdasar data dan temuan di lapangan,” tegas Iwan melalui pesan tertulis.

Sebelumnya diberitakan, warga sekitar telah menyuarakan keluhan sejak Senin (11/5/2026). Salah satu warga, Kiki, yang rumahnya berada tepat di belakang dapur mengaku sangat terganggu dengan aroma tidak sedap yang menyebar luas setiap kali hujan turun.

“Kalau cuaca cerah mungkin masih tertahan, tapi begitu hujan turun baunya menyengat ke mana-mana sampai masuk ke dalam rumah. Kami berharap ada solusi nyata, bukan hanya penjelasan,” ungkap Kiki.

Masyarakat kini menanti langkah konkret pemerintah daerah. Kehadiran tim DLH dan Satgas MBG diharapkan tidak hanya berhenti pada pemeriksaan administrasi, namun mampu memastikan standar lingkungan terpenuhi, serta menjamin program strategis pemerintah ini berjalan sejalan dengan kelestarian lingkungan dan kenyamanan warga sekitar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

1 Juli 2026 - 14:31 WIB

Gelar Adat, Legitimasi, dan Marwah Budaya Lampung

30 Juni 2026 - 00:08 WIB

Kolonel Marinir Kanang Budi Raharjo Resmi Menjabat Danbrigif 4 Mar/BS

29 Juni 2026 - 22:58 WIB

Sukacita Keluarga yang Berbuntut Rencana Pelaporan Oknum Polisi

26 Juni 2026 - 03:17 WIB

Skandal SPPG Fiktif: Saat Makanan Bocah Indonesia Ditukar Proyek “Hantu” Rp1 Triliun

26 Juni 2026 - 00:48 WIB

Trending di Fashion