Demi Nyawa, Warga Tambal ‘Jalan Maut’ di Depan PONED Panaragan Jaya Secara Swadaya
Update24.co.id – Pemandangan haru sekaligus miris terlihat di ruas jalan depan PONED Kelurahan Panaragan Jaya, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Kamis (28/5/2026). Sejumlah warga sekitar terlihat bergotong royong membawa semen dan peralatan sederhana, menambal lubang-lubang berbahaya yang selama ini menjadi ancaman nyata bagi pengguna jalan.

Aksi kepedulian ini dilakukan tak lama setelah tragedi memilukan terjadi. Pada Rabu (27/5/2026) pukul 19.30 WIB, jalan rusak itu kembali memakan korban jiwa. Karim, seorang warga setempat, meninggal dunia dalam kecelakaan tunggal yang diduga kuat dipicu oleh kondisi jalan yang berlubang dan tidak terawat.
Bergerak dari rasa prihatin dan ketakutan akan jatuhnya korban berikutnya, warga pun turun tangan sendiri. Momen kebersamaan itu terekam dalam video yang diunggah akun Facebook Neli Ny Ansyori, dan dengan cepat menjadi perbincangan hangat hingga viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, terlihat warga bekerja sama menutup celah-celah berbahaya itu dengan campuran semen, berharap usaha sederhana mereka bisa menyelamatkan nyawa orang lain.
Namun di balik apresiasi yang mengalir deras, unggahan itu juga memicu gelombang kritik tajam dari warganet. Banyak yang menyoroti lambannya penanganan pemerintah terhadap jalan yang berada di kawasan strategis tersebut—persis di depan fasilitas pelayanan kesehatan penting, PONED.
“Punya pemerintah daerah gak berguna, giliran minta suara banyak janji-janji. Jalan menuju kantor-kantor mereka saja gak bagus. Gimana gak maju kalau jalannya pada rusak,” tulis akun Yoki Saputra, mewakili keluhan banyak pihak.
Di sisi lain, banyak pula netizen yang memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada warga Panaragan Jaya. Sikap cepat tanggap dan kepedulian tinggi terhadap keselamatan umum dianggap menjadi bukti bahwa masyarakat masih sangat peduli, meski harus berjuang dengan cara sendiri.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, ruas jalan tersebut sebenarnya merupakan tanggung jawab Pemerintah Provinsi Lampung. Meski disebut hampir setiap tahun dilakukan perbaikan ringan, warga menilai penanganan itu hanya bersifat tambal sulam. Lubang-lubang selalu muncul kembali, dan keluhan masyarakat seolah belum didengar secara serius.
Kini, setelah nyawa melayang dan warga turun tangan sendiri, harapan besar tertuju pada pemerintah—baik tingkat Provinsi maupun Kabupaten. Masyarakat menuntut solusi nyata dan berkelanjutan, agar jalan yang kini dijuluki sebagai ‘jalan maut’ itu kembali aman, dan tidak ada lagi nyawa yang menjadi korban kelalaian perawatan infrastruktur.














